Amsal 3:21-24

Nas: Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh

dari matamu, peliharalah itu (Amsal 3:21)


Di Belgia pernah dilakukan survei terhadap warga yang berusia 60 tahun. Survei tentang penyesalan terbesar dalam hidup mereka.

Hasilnya: 72% menyesal karena mengabaikan waktu untuk bekerja dengan baik di masa mudanya; 67% menyesal karena salah memilih profesi; 63% menyesal karena kurang waktu mendidik anak atau menggunakan pola didik yang salah; 58% menyesal karena kurang berolahraga dan menjaga kesehatan; 11% menyesal karena tidak memiliki cukup uang. Jika survei ini diajukan kepada Anda, apa penyesalan terbesar dalam hidup Anda?

Ada pepatah, penyesalan selalu datang terlambat. Itu tidak salah. Kita menyesal atas tindakan atau perbuatan salah di masa lalu. Kita menyesal atas keputusan keliru di masa lalu. Kita menyesal atas perkataan buruk yang pernah terlontar dari mulut kita, dan ternyata dampaknya begitu kuat terhadap diri seseorang. Namun, penyesalan tinggallah penyesalan. Masa lalu tidak bisa diulang. Baik atau buruk, apa yang sudah terjadi akan tetap menjadi sebuah “jejak”.

Maka, dalam setiap tindakan dan ucapan kita, tidak dapat tidak, “pertimbangan dan kebijaksanaan” itu penting sekali. Jangan grusa- grusu. Jangan asal tabrak. Jangan berpikir “bagaimana nanti”, tetapi berpikirlah “nanti bagaimana”. Artinya, pertimbangkan matang-matang. Betul, kita tidak mungkin sama sekali terhindar dari penyesalan, sebab betapa pun kita tidak lepas dari kesalahan. Namun, dengan “pertimbangan dan kebijaksanaan” , setidaknya kita bisa meminimalkannya; menjaga langkah kita tetap berjalan di jalan yang lebih “aman” —AYA

MENYESAL KEMUDIAN TIADA BERGUNA MAKA BERPIKIRLAH BIJAK DAN

BERTINDAKLAH BAJIK