Ayat bacaan: 1 Kor 1:27

“Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat”

Batman adalah salah satu tokoh favorit saya sejak kecil. Bagi saya, meskipun Batman tetaplah sebuah fiksi, tokoh superhero rekaan, namun banyak sisi-sisi humanisnya. Tidak seperti Superman yang datang dari planet Krypton dan punya kekuatan super, bisa terbang, kebal peluru dan sebagainya, Batman hanyalah manusia biasa seperti kita yang dilengkapi dengan kemampuan bela diri dan teknologi. Batman tidak bisa terbang, tidak kebal peluru, tidak immortal,bahkan sempat mengalami masa-masa pahit dalam hidupnya pula. Kedua orang tuanya tewas di bunuh penjahat di depan matanya ketika ia masih kecil, akibatnya kehidupannya berubah drastis. Itu sedikit cuplikan kisah Batman yang kemudian menjadi superhero pahlawan penumpas kejahatan di seantero kota rekaan Gotham city. Sebuah lampu sinyal akan menyala ke langit jika Batman dibutuhkan. Lampu sorot yang membentuk logonya akan terlihat di langit, dan itu artinya ada tindak kejahatan serius yang membutuhkan kehadirannya.

Sadarkah kita bahwa setiap saat kita berhadapan dengan dunia yang penuh kejahatan dan kegelapan seperti Gotham? Ada begitu banyak hal di sekitar kita yang sangat membutuhkan kehadiran kita para anak-anak Tuhan untuk membawa terang, menyinari kegelapan dan menyelamatkan jiwa. Mungkin kita akan berkata, “itu bukan tugas kita…” “saya bukan Batman”, bukan pula jagoan, bukan superhero, bukan pendeta, bukan anak teologia, bukan hamba Tuhan dan sebagainya. Kita seringkali beranggapan bahwa kita tidak ada apa-apanya dan sama sekali tidak pada tempatnya untuk dipakai Tuhan untuk pekerjaan-pekerjaanNya di dunia ini. Tapi lihatlah ayat hari ini berbicara sebaliknya. “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat” (1 Timotius 1:27). Demikian pula ayat selanjutnya: “dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.” (ay 28-29). Orang-orang yang “bodoh” bagi dunia, orang-orang yang bagi dunia “tidak ada apa-apanya”, orang orang biasa seperti saya dan anda, itulah yang dipakai Tuhan untuk bekerja di ladangNya. Tidak perduli siapa saja, usia berapa, latar belakang apapun, bisa dipakai Tuhan, karena bukan kita yang hebat, melainkan Tuhan lah yang hebat dan bekerja melalui kita.

Sepanjang kisah tokoh-tokoh Alkitab, kita melihat bahwa orang-orang yang dipakai Tuhan secara luar biasa bukanlah orang-orang yang punya latar belakang hebat. Tuhan tidak memakai ahli perang untuk melawan Goliat, tapi dia memilih seorang anak yang masih kemerahan, yaitu Daud. (1 Samuel 17:42) Gideon hanya disuruh mengumpulkan tidak lebih dari 300 prajurit saja untuk menghadapi tentara Midian dan Amalek yang seperti pasir di tepi laut banyaknya. Yefta adalah seorang anak pelacur (Hakim Hakim 1:11). Yefta adalah produk broken home, diusir dari rumah, dan di masyarakat dia hanyalah orang terbuang. Tapi Tuhan sanggup mengangkatnya menjadi pahlawan gagah perkasa. Paulus seorang pembantai orang kristen, tapi dia diubahkan luar biasa untuk menjadi pewarta firman. Dan ada banyak lagi contoh dari para tokoh Alkitab yang justru berasal dari orang biasa saja, orang tertindas, terbuang, namun kemudian dipakai Tuhan secara luar biasa.

Tuhan tidak butuh superhero. Dia butuh orang-orang yang dianggap “bodoh” oleh dunia, orang-orang yang secara logika tidak mampu, orang-orang seperti anda dan saya, untuk bekerja demi kemuliaanNya. Mengapa demikian? Karena bukan kita yang luar biasa, namun Tuhan kita-lah yang luar biasa! Tuhan tidak pernah memandang latar belakang atau masa lalu kita. Jika tokoh-tokoh yang saya sebutkan di atas saja mampu Tuhan angkat menjadi begitu luar biasa, maka Dia pun sanggup melakukan hal yang sama untuk kita. Sekalipun kita dilahirkan di keluarga berantakan, sekalipun kita mempunyai masa lalu sangat kelam, Tuhan setiap saat mau menerima hidup kita. Pertanyaannya bukan sanggupkah kita, mampukah kita, tapi yang menjadi pertanyaan adalah, mau atau tidak. Maukah kita melayani Tuhan, menjadi terang, menjadi perantaraNya untuk menyampaikan berkat bagi orang-orang di sekitar kita? Soal sanggup atau tidak, itu tidak masalah, karena yang diminta Tuhan hanyalah kesediaan kita. Seperti Batman, lampu sorot untuk memanggil anda sekarang pun sedang dinyalakan, Dunia butuh kehadiran anda. Ada banyak orang yang butuh bantuan dalam berbagai bentuk, butuh dikasihi, diperhatikan dan sebagainya. Bukan soal bisa atau tidak, tapi mau atau tidak. It’s your call.