Judul di atas ironis bukan? Seorang raja seharusnya dihormati, disembah, dan ditaati perintahnya. Bukankah ia memiliki kedaulatan mutlak? Namun bacaan hari ini justru memperlihatkan bahwa Raja di atas segala raja mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya. Dia dipukul, dihina, bahkan kemudian dibunuh. Mengapa Sang Raja tidak melawan? Dia telah menetap-kan diri untuk tunduk kepada Bapa-Nya serta menerima segala derita bahkan kematian sebagai cara untuk menyelamatkan umat-Nya. Penolakan orang Yahudi, pemuka agama, termasuk para prajurit yang menista, tidak membuat Yesus hilang kendali diri. Kalau Yesus mau, Dia bisa menyatakan kuasa-Nya dengan mengirim pasukan surgawi untuk membinasakan musuh-musuh- Nya. Tidak adanya perlawanan dari Yesus membuktikan bahwa Dia tidak berada dalam kuasa mereka yang menganiaya bahkan akan membunuh Dia. Dengan memberi diri diolok-olok bahkan dibunuh, Dia menggenapi rencana Allah yang sudah dinubuatkan (Yes. 53:3, 7, 10), yakni untuk menggantikan hukuman yang seharusnya ditanggung manusia berdosa. Dia adalah Raja sesuai konsep Israel, yaitu sebagai gembala yang menjaga dan memelihara domba gembalaannya, yaitu rakyatnya (2Sam. 7:8). Bahkan kalau perlu berkelahi melawan binatang buas yang mau memangsa domba tersebut. Yesus, Gembala yang agung, menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba- Nya (Yoh. 10:11). Dia Raja, yang demi keselamatan umat-Nya, rela menanggung kejahatan yang dilakukan musuh-musuh- Nya. Yesus sudah membuktikan diri sebagai Raja sejati. Ia bergeming atas perlakuan hina dan sadis para musuh-Nya. Bahkan melalui semua itu, Yesus dapat melindungi semua orang yang percaya kepada-Nya dari cengkeraman musuh Tuhan yang mau membinasakan jiwa-jiwa milik Tuhan. Seharusnya sekarang kita menyembah dan menghormati Raja di atas segala raja itu. Tunduk dan taat kepada pemerintahan- Nya yang kekal adalah sikap yang tepat juga.