Keluaran 17:8-26

Hidup Kristen selalu berhadapan dengan peperangan rohani. Iblis dengan berbagai cara berupaya menjatuhkan kita dalam dosa. Bagaimana kita bisa menang dalam peperangan rohani?
Israel sedang menghadapi perang melawan orang Amalek di Rafidim. Menurut seorang penafsir, kemungkinan musuh Israel itu menutup mata air-mata air di Rafidim supaya pasukan Israel menjadi tidak berdaya dan mudah untuk dikalahkan. Namun Tuhan menolong mereka dengan cara yang ajaib dengan mengeluarkan air dari gunung batu di Horeb (6). Untuk memperoleh kemenangan dalam peperangan itu, Musa dan umat Israel melakukan beberapa hal. Musa berdoa dengan membawa tongkatnya sebagai lambang penyertaan Tuhan karena ia tahu hanya Tuhanlah yang dapat memberikan kemenangan.
Bukan hanya berdoa, Musa bertindak dengan menyuruh Yosua memimpin umat Israel maju dalam peperangan. Dalam berdoa, Musa tidak sendirian melainkan mendapat dukungan Harun dan Hur. Ketika Musa letih, mereka menopang kedua tangan Musa agar tetap terangkat kepada Tuhan untuk mendapatkan kekuatan dari Tuhan dalam peperangan itu. Dengan keperkasaan tangan Allah yang memakai ketaatan umat-Nya, mereka meraih kemenangan gemilang. Akhirnya segala kemuliaan dikembalikan kepada Tuhan dengan mencatatnya sebagai memori akan karya Tuhan yang akan diingat dari generasi ke generasi (14). Akhirnya kemenangan itu mereka rayakan dengan mendirikan mezbah yang dinamai “Tuhanlah Panji-panjiku” (15-16).
Kita tidak perlu berperang sendirian. Minta Tuhan menjadi pemimpin perang Anda. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata yang sudah Allah sediakan karena peperangan rohani berarti melawan kuasa dan tipu daya Iblis (Ef. 6:10-18). Libatkan saudara-saudara seiman untuk bersama-sama berjuang, saling menguatkan dan meneguhkan agar jangan sampai Anda lelah dan menyerah kalah.

Keluaran 17:1-7

Mengapa Tuhan mengizinkan umat-Nya yang sedang berjalan di padang gurun berulang kali mengalami kekurangan air (1-2, lih. Kel. 15:23, Bil. 20:2)? Agar mereka belajar bersandar penuh kepada Dia.
Sekali lagi kita melihat umat Tuhan yang bertingkah laku bukan sebagai umat beriman. Wajar sekali bila orang mengalami kehausan karena kekurangan air saat berada di padang gurun yang gersang. Akan tetapi, bukankah mereka sudah beberapa kali melihat bagaimana Tuhan menghantar mereka melewati padang kesulitan? Bukankah mereka sudah mengalami sendiri bagaimana Tuhan memelihara mereka dengan cara-Nya yang ajaib? Sayang sekali mereka bebal. Perhatian mereka hanya tertuju pada penderitaan yang akan mereka hadapi di padang gurun. Mereka tidak mau bila kondisi di gurun jauh lebih buruk daripada kondisi mereka ketika masih di Mesir. Di Mesir mereka dapat menikmati makanan secara berkelimpahan. Celakanya mereka lupa bahwa di Mesir mereka tidak merdeka karena secara fisik maupun mental, mereka adalah budak dari Firaun. Di balik keluh kesah tentang kedahagaan jasmani, sebenarnya mereka mengalami kedahagaan yang jauh lebih mengerikan yaitu, kerohanian yang dahaga. Kekeringan rohani membuat mereka tidak mampu melihat dan merasakan kehadiran Tuhan yang seharusnya menyegarkan hidup.
Dunia sekarang ini adalah dunia dengan gejala kekeringan dan kedahagaan rohani luar biasa. Buktinya adalah kebangkitan agama dan aliran kepercayaan, maraknya tempat-tempat hiburan, pengejaran terhadap status, kekayaan, dan kemewahan. Yang celaka tentu kalau orang Kristen sendiri terjebak ke dalam situasi ini. Sebagai anak-anak Tuhan, mari segarkan rohani kita dengan mendekatkan diri kepada Dia lewat persekutuan yang intim dalam firman dan doa. Jika berbagai tanda kekeringan rohani Anda rasakan kini, akuilah kepada Tuhan. Jadikan ini sebagai kesempatan untuk merasakan Tuhan memuaskan dahaga Anda.

Amsal 3:21-24

Nas: Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh

dari matamu, peliharalah itu (Amsal 3:21)


Di Belgia pernah dilakukan survei terhadap warga yang berusia 60 tahun. Survei tentang penyesalan terbesar dalam hidup mereka.

Hasilnya: 72% menyesal karena mengabaikan waktu untuk bekerja dengan baik di masa mudanya; 67% menyesal karena salah memilih profesi; 63% menyesal karena kurang waktu mendidik anak atau menggunakan pola didik yang salah; 58% menyesal karena kurang berolahraga dan menjaga kesehatan; 11% menyesal karena tidak memiliki cukup uang. Jika survei ini diajukan kepada Anda, apa penyesalan terbesar dalam hidup Anda?

Ada pepatah, penyesalan selalu datang terlambat. Itu tidak salah. Kita menyesal atas tindakan atau perbuatan salah di masa lalu. Kita menyesal atas keputusan keliru di masa lalu. Kita menyesal atas perkataan buruk yang pernah terlontar dari mulut kita, dan ternyata dampaknya begitu kuat terhadap diri seseorang. Namun, penyesalan tinggallah penyesalan. Masa lalu tidak bisa diulang. Baik atau buruk, apa yang sudah terjadi akan tetap menjadi sebuah “jejak”.

Maka, dalam setiap tindakan dan ucapan kita, tidak dapat tidak, “pertimbangan dan kebijaksanaan” itu penting sekali. Jangan grusa- grusu. Jangan asal tabrak. Jangan berpikir “bagaimana nanti”, tetapi berpikirlah “nanti bagaimana”. Artinya, pertimbangkan matang-matang. Betul, kita tidak mungkin sama sekali terhindar dari penyesalan, sebab betapa pun kita tidak lepas dari kesalahan. Namun, dengan “pertimbangan dan kebijaksanaan” , setidaknya kita bisa meminimalkannya; menjaga langkah kita tetap berjalan di jalan yang lebih “aman” —AYA

MENYESAL KEMUDIAN TIADA BERGUNA MAKA BERPIKIRLAH BIJAK DAN

BERTINDAKLAH BAJIK

Keluaran 4:10

“Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.”

Tidak terasa RHO sudah melewati setahun. Selama setahun saya menulis renungan tiap malam, membaca Alkitab, merenungkan firman Tuhan tanpa lewat satu kali pun, dan yang paling utama, selama setahun penuh pula Tuhan berbicara sehingga saya bisa menuliskan renungan demi renungan setiap harinya. Jika saya mengingat kembali pada awal dimana saya memutuskan untuk menulis, ada keraguan yang sempat terbersit di hati saya, apakah saya sanggup? Ini mengingat saya bukanlah lulusan teologia, masuk saja tidak pernah. Saya terhitung baru menerima Kristus sebagai Juru Selamat, baru memasuki tahun ke 8. Hidup saya di masa lalu bergelimang dosa dalam berbagai bentuk. Sebelum saya mulai menulis, saya sangat jarang membaca Alkitab, paling di Gereja saja, itu juga tidak setiap minggu saya jalani. Saya jarang berdoa, sangat tidak teratur. Ketika saya mencoba, terkadang saya tertidur di saat berdoa, dan amin-nya baru besok pagi. Tidak heran jika saya bingung dan ragu ketika saya diminta Tuhan untuk melayani lewat internet. Saya berkata, “Tuhan, serius dong… apa mungkin saya bisa? Apa nggak mending pedeta saja atau siswa sekolah teologia?” Dan kata-kata yang terdengar dalam hati saya waktu itu sangat jelas. “Aku tidak bertanya bisa atau tidak, tapi mau atau tidak. Karena bukan kamu yang bekerja, tapi Aku.” Dan saya memutuskan untuk taat. Saya merasa begitu banyak hidup saya yang tersia-siakan karena dulu saya hanya bergantung pada kekuatan saya sendiri. It’s time for a turning point. This time I’ll listen to Him and let Him decide whatever best for me. Itu yang menjadi tekad saya. Saya mau belajar percaya, mau belajar patuh dan mau menyerahkan perjalanan hidup saya ke depan bersama Dia. Dan hari ini saya cuma mau berucap syukur. Tuhan, Engkau luar biasa. Sudah lebih setahun, dan ternyata janjiNya terbukti. Tidak saja Dia berbicara setiap hari untuk bahan yang harus dituliskan, namun penyertaanNya dalam perjalanan hidup saya penuh dengan mukjizat atau keajaiban-keajaiban. I feel so close to Him, closer than I’ve ever felt, and that has been going for more than a year! Begitu kuatnya keberadaan Tuhan dalam hidup saya, sehingga saya bisa meninggalkan segala kekhawatiran mengenai masa depan, saya tidak perlu takut atau ragu, karena saya tahu ada Tuhan yang bertahta di atas segala pekerjaan yang saya lakukan, dan hidup yang saya jalani bersama keluarga saya. Berbagai keajaiban yang lewat nalar manusia rasanya tidak mungkin, terjadi berkali-kali. Mukjizat kesembuhan, berkat dalam pekerjaan, teguran-teguran, hikmat dan banyak lagi bentuk kemuliaanNya hadir dalam hidup saya. Jika sekarang saya boleh merasakan sukacita dan damai sejahtera, itu karena tidak ada lagi rasa khawatir untuk hari depan, sebab Tuhan dalam hidup saya. Haleluya!

Musa ternyata pernah mengalami keraguan yang sama ketika ia diutus Tuhan. Musa saat itu sudah tidak muda lagi. Maka ketika Tuhan tiba-tiba memanggilnya dikala Musa sedang menggembalakan domba-domba mertuanya, Yitro, Musa pun bingung. Banyak pertanyaan hadir di benaknya. “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” (Keluaran 3:11). Jawab Tuhan: “Bukankah Aku akan menyertai engkau?” (ay 12). Musa kembali bertanya, dan kemudian Tuhan menjawab: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” (ay 14). Dalam bahasa Inggrisnya lebih tegas: “I AM WHO I AM and WHAT I AM, and I WILL BE WHAT I WILL BE.” Serangkaian pertanyaan masih dikemukakan Musa yang saya yakin saat itu sedang kebingungan. Dia kemudian menyadari keterbatasan kemampuannya. “Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.” (4:11). Jika mengacu dari versi bahasa Inggris, kelihatannya Musa memiliki masalah dalam berbicara. “..for I am slow of speech and have a heavy and awkward tongue.” Tapi lihatlah jawaban Tuhan: “Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan.” (ay 11-12). Ya, bukan kemampuan Musa yang menentukan, namun kuasa Tuhanlah yang memampukan.

Sepanjang berbagai kisah dalam Alkitab, Tuhan berulang kali membuktikan bahwa Dia sanggup memakai siapapun. Mulai dari gembala hingga pembantai orang Kristen, mulai dari anak-anak, wanita hingga orang tua, orang berdosa, pemungut cukai, nelayan, pelacur, semua bisa diubahkan Tuhan menjadi saluran berkatNya. Paulus yang punya latar belakang pembantai orang Kristen, bisa diubahkan begitu luar biasa dalam sesaat. Tuhan berkata padanya: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Korintus 2:9) Dia kemudian sampai pada satu kesimpulan, bahwa dalam kelemahannya-lah dia menjadi kuat. (2 Korintus 12:10).

Kelemahan kita, ketidakmampuan kita, keterbatasan kita, kekurangan kita, bahkan ketidaklengkapan kita sekalipun bisa dipergunakan Tuhan untuk menyatakan kuasaNya. Tuhan mampu memenuhi kita dengan kekuatan sehingga Dia bisa mempergunakan segala keterbasan kita untuk hal yang baik. Dalam segala keterbatasan kita, datanglah pada Tuhan dan berpeganglah padaNya. Kita akan terus bertumbuh dalam kekuatan, semangat, dan sukacita jika kita terus membangun hubungan dengan Bapa di Surga. Semua tergantung seberapa besar kita mau taat, seberapa besar kita mau mematuhi dan menuruti kehendakNya bagi hidup kita.

Tidak harus super sarjana untuk berhasil dalam hidup, tidak harus jadi super pendeta untuk mampu melayani. Kita semua bisa dipakai Tuhan untuk menyatakan kemuliaanNya. We all can be used for His glory. Berbagai latar belakang kita, selemah apapun, bisa diubah menjadi sumber berkat luar biasa. Dibalik segala kelemahan kita, kuasa Tuhan justru menjadi sempurna.

Kuasa Tuhan justru sempurna dalam kelemahan kita

Keluaran 16:1-21

Bagaimana agar kita tidak kehilangan sukacita dan damai sejahtera saat krisis menerpa hidup dan masa depan seakan gelap? Mungkin kita tengah mengalami krisis keuangan atau ancaman PHK di ambang pintu? Dalam saat krisis seperti itu, berpalinglah kepada Tuhan dan ingatlah kebaikan yang pernah Dia nyatakan dalam Alkitab dan yang juga telah Dia nyatakan dalam hidup Anda.
Mengapa umat Israel mudah sekali bersungut-sungut tatkala menghadapi sedikit situasi yang tidak mengenakkan? Mereka lupa bahwa Tuhan telah sejak permulaan menyatakan pertolongan-Nya dengan tak henti-henti. Baik pertolongan yang menyelamatkan mereka dari rongrongan musuh, maupun dari kehausan dan kelaparan (Kel. 15:22-27). Syukur bahwa Allah Israel adalah Allah yang panjang sabar. Walau Musa bisa bosan dan merasa dibebani dengan sungut-sungut umat (6-8), Allah tetap menyatakan kasih dan kepedulian-Nya. Ia memberikan dengan limpah apa yang mereka butuhkan. Baik manna di pagi hari maupun daging di sore hari (12). Tentu agar mereka mendapatkan dan menikmati berkat Tuhan tersebut, ada yang mereka perlu taati dari Tuhan. Pertama, bangun pagi-pagi dan memungut manna untuk makanan mereka setiap hari. Kedua, tidak rakus melainkan mengambil secukupnya sesuai kebutuhan masing-masing keluarga. Ini senada dengan isi doa yang diajarkan Yesus, “Berikanlah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya.” (Mat. 6:11). Ketiga, percaya kepada Tuhan yang dengan ajaib akan memberkati hari keenam sehingga manna yang mereka ambil hari itu akan cukup untuk hari itu dan hari Sabat (5). Ketidaktaatan pada pengaturan Tuhan membuat berkat berubah menjadi kutuk (20).
Respons apa yang sepatutnya kita berikan kepada Tuhan yang penuh kemurahan? Jangan bersungut-sungut melainkan naikkan syukur dengan sepenuh hati. Taati petunjuk firman-Nya agar kita dapat menyaksikan karya Tuhan yang luar biasa dan yang akan mencukupkan segala kebutuhan kita.

Keluaran 15:22-27

Mengapa kita begitu gampang bersungut-sungut tatkala menghadapi berbagai masalah dalam hidup, seakan-akan Tuhan tidak menyertai kita? Mungkin karena kita memiliki konsep yang salah mengenai penyertaan dan pemeliharaan Tuhan.
Bacaan hari ini menolong kita memahami konsep yang benar tentang penyertaan dan pemeliharaan Tuhan. Disertai Tuhan tidak berarti bahwa segala sesuatu dalam hidup akan berjalan lancar tanpa masalah. Mungkin bila segala sesuatu berjalan lancar kita justru tidak akan belajar apapun tentang Tuhan. Sebaliknya saat masalah datang, umat Tuhan diajar untuk memercayai pemeliharaan Tuhan. Tuhan mampu menolong umat keluar dari krisis. Itulah yang umat Israel alami saat krisis air minum melanda mereka. Di padang gurun, krisis seperti itu dengan cepat berubah menjadi sesuatu yang kritis. Bayangkan keletihan dan dehidrasi yang mereka alami, terutama kaum wanita dan anak-anak. Justru pada saat seperti itu mereka belajar mengandalkan Tuhan. Sungut-sungut tidak dapat menolong, bahkan bisa menimbulkan murka Tuhan. Namun dengan memandang kepada Tuhan, mereka menyaksikan kuasa-Nya yang kreatif, yang mengubah air pahit menjadi air manis (band. Yesus mengubah air menjadi anggur di Yoh. 2:1-10). Penyertaan Tuhan menuntut penyerahan total dan ketaatan penuh pada perintah-Nya. Hanya saat mereka bersandar penuh pada-Nya, Ia membukakan mata air berkat-Nya yang melimpah (27).
Tidak selalu hidup umat Tuhan berjalan lancar tanpa masalah. Ada waktunya Tuhan mengizinkan krisis melanda hidup dan menguji. Maka krisis seharusnya mendekatkan kita pada Tuhan. Sebab itu jangan pernah mencoba menyelesaikan sendiri masalah kita tanpa mengikutsertakan Tuhan, apalagi sampai mempersalahkan bahkan meninggalkan Dia untuk kompromi dengan dosa. Melalui krisis yang bahkan bisa memuncak menjadi kritis, Tuhan dapat menyatakan pertolongan-Nya secara ajaib dan kreatif

(Mat. 28:19,20)

Bagaimana engkau memanggil aku BAPA
sedangkan sehari harinya engkau tidak berlaku seperti anakKU?

Bagaimana engkau menyebut KAMI
sedangkan engkau hidup menyendiri tidak perduli akan sesama.

Bagaimana engkau mengatakan YANG ADA DI SURGA
sedangkan engkau hanya memikirkan hal-hal duniawi untuk memuaskan diri
sendiri.

Bagaimana engkau mengatakan DIMULIAKANLAH NAMAMU
sedangkan engkau tidak menghormati Aku

Bagaimana engkau mengatakan JADILAH KEHENDAKMU
sedangkan engkau hanya mau yang manis dan tidak mau yang pahit yang dari
padaKu

Bagaimana engkau mengatakan BERILAH KAMI PADA HARI INI MAKANAN YANG
SECUKUPNYA.
Sedangkan engkau makan sekenyang kenyangnya dan tidak pernah berbagi
kepada yang lapar.

Bagaimana engkau mengatakan  AMPUNILAH KESALAHAN KAMI
sedangkan engkau masih mendedam terhadap orang yang bersalah kepadamu.

Bagaimana engkau mengatakan JANGAN MEMBAWA KAMI KEDALAM PENCOBAAN.
Sedangkan engkau senang bermain dengan dosa.

Bagaimana engkau mengatakan LEPASKANLAH KAMI  DARI YANG JAHAT
Sedangkan engkau senang berbuat jahat.

Bagaimana engkau mengatakan KARENA ENGKAULAH YANG EMPUNYA KUASA DAN
KEMULIAAN SAMPAI SELAMA LAMANYA
Sedangkan engkau mengandalkan kekuatanmu, dan lebih percaya kepada dukun
dan para normal.

Bagaimana engkau mengatakan AMIN
sedangkan engkau tidak menganggap serius doa BAPA KAMI yang engkau
panjatkan!